Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Ubah Minyak Jelantah Jadi Cuan

Senin, 12 Januari 2026 | 22:28:00 WIB
PertaminaMinyak goreng bekas atau yang biasa disebut jelantah (used cooking oil / UCO) telah diolah menjadi bahan bakar pesawat. (ilustrasi)

Indramayu,sorotkabar.com -- Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata memiliki nilai guna dan nilai jual jika dikelola dengan benar. Selain dapat menambah penghasilan rumah tangga, pengelolaan minyak jelantah juga berperan penting dalam mencegah pencemaran lingkungan.

Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Indramayu mendorong masyarakat agar tidak membuang minyak jelantah sembarangan. Warga dapat menyetorkan minyak jelantah ke bank sampah.

Melalui program pengumpulan minyak jelantah, masyarakat dapat berkontribusi langsung dalam pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Minyak bekas pakai yang dikumpulkan akan diolah kembali sehingga memiliki nilai guna serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Staf Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, Intan, mengatakan pengelolaan minyak jelantah menjadi salah satu langkah konkret dalam menjaga kelestarian lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. Minyak jelantah yang terkumpul tidak hanya mencegah pencemaran, tetapi juga dapat diolah kembali sehingga memiliki nilai jual.

“Kami berharap masyarakat makin sadar limbah rumah tangga bisa dikelola secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat,” ujar Intan, akhir pekan ini.

Salah satu bank sampah yang aktif mengelola minyak jelantah adalah Bank Sampah Rumah Hijau di Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu. Bank sampah tersebut mencatat rata-rata penerimaan minyak jelantah sekitar 63 kilogram per bulan dengan harga Rp 4.000 per kilogram.

Warga dapat menyetorkan minyak jelantah sebagai nasabah dengan sistem tabungan. Tabungan tersebut dapat dicairkan setelah enam bulan atau ketika saldo mencapai Rp 50.000.

Selain menerima setoran dari warga, Bank Sampah Rumah Hijau juga menjalin kerja sama dengan mitra, seperti pedagang kaki lima dan kedai makanan. Penjemputan minyak jelantah dari mitra biasanya dilakukan dalam jumlah lebih besar, rata-rata di atas 20 kilogram per pengambilan.

Untuk nasabah rumah tangga, penyetoran umumnya dilakukan sebulan sekali pada pekan terakhir. Sementara itu, penjemputan dari mitra menyesuaikan ketersediaan stok.

Selain di Kecamatan Sindang, Bank Sampah Jembangan Jaya di Kelurahan Lemahabang, Kecamatan Indramayu, juga menerima setoran minyak jelantah dari masyarakat dengan rata-rata 10 hingga 15 liter per bulan. Harga yang ditetapkan sebesar Rp 3.000 per 600 mililiter atau setara satu botol air mineral.

Proses pengumpulan dilakukan dengan nasabah datang langsung ke lokasi bank sampah, biasanya sekali dalam sebulan pada akhir bulan.

Minyak Jelantah untuk Avtur

Tak hanya di Indramayu, Bank Sampah Beo Asri di Kelurahan Tegalreja, Cilacap Selatan, juga memiliki program mengumpulkan minyak jelantah. Minyak jelantah ini rencananya akan digunakan untuk campuran avtur berkelanjutan (SAF) PT Pertamina (Persero) yang diproduksi PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit IV Cilacap (RU IV).

Program ini menghimpun partisipasi masyarakat untuk mengumpulkan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) agar memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus mencegah pencemaran lingkungan dari limbah minyak jelantah. 

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengungkapkan, Bank Sampah Beo Asri menjadi salah satu mitra Pertamina dalam tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL). Pertamina melalui RU IV menggandeng Bank Sampah Beo Asri sejak tahun 2023. 

Pada perkembangannya, saat ini Bank Sampah Beo Asri berhasil menghimpun partisipasi 880 warga untuk mengumpulkan minyak jelantah. Volume rata-rata pengumpulan minyak jelantah mencapai 175 kg/per bulan. 

Selanjutnya, minyak jelantah yang terkumpul dijual ke Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanusa Cilacap) dengan harga Rp 5.000 per kilogram, sehingga dapat menghasilkan omzet hingga Rp 12 juta per tahun.

"Pertamina mengembangkan ekosistem energi ramah lingkungan, salah satunya dengan minyak jelantah yang bisa diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel, bahan bakar pesawat terbang. Bank Sampah Beo Asri menjadi salah satu ekosistem kami, sehingga selain berdampak bagi lingkungan juga mendorong kemandirian ekonomi bagi masyarakat sekitarnya," kata Fadjar, beberapa waktu lalu.

Camat Cilacap Selatan Basuki Priyo Nugroho mengapresiasi  program ini. Ia mengatakan  pemanfaatan minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat tidak hanya memberikan lingkungan tapi juga manfaat ekonomi.

Basuki mengatakan Cilacap Selatan yang memiliki 80 RW dan 425 RT berpotensi  menghasilkan dampak signifikan bagi penanganan limbah minyak jelantah. Ia berharap Pertamina dapat memperluas pendampingan ke lima kelurahan lainnya.

Program Bank Sampah Beo Asri juga memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekonomi sirkular. Kegiatan pengumpulan jelantah yang rutin dilakukan tiap pekan tidak hanya mencegah pencemaran, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan baru untuk memilah limbah rumah tangga. 

Kegiatan ini melibatkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), kader lingkungan, dan komunitas warga. Basuki mengungkapkan, program ini perlahan membangun ekosistem hijau yang inklusif, di mana setiap orang berkontribusi terhadap keberlanjutan.
 
"Dengan adanya program ini, masyarakat semakin percaya bahwa minyak jelantah bisa bermanfaat dan bahkan menghasilkan tambahan penghasilan," ujar Basuki. 

Avtur Minyak Jelantah Dukung Transisi Energi

?

Melalui inovasi Pertamina SAF, Pertamina mendorong komitmen global terhadap pengembangan bahan bakar aviasi berkelanjutan. - (pertamina)

Upaya Pertamina mengubah minyak jelantah menjadi avtur ramah lingkungan semakin ditegaskan oleh Pertamina Patra Niaga. “Melalui inovasi Pertamina SAF, Pertamina mendorong komitmen global terhadap pengembangan bahan bakar aviasi berkelanjutan," ujar Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga Pertamina Patra Niaga Alimuddin Baso dalam keterangannya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Alimuddin menambahkan, Pertamina Patra Niaga menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut, mulai dari penyediaan bahan baku hingga menjadi pemasar kepada maskapai penerbangan. Pengembangan dan penerapan Pertamina SAF ke depan akan menjadi langkah nyata perusahaan dalam mendukung transisi energi di sektor penerbangan, sekaligus mempercepat pencapaian target Indonesia Net Zero Emission 2060.

Lebih lanjut, Alimuddin menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat layanan dan menghadirkan inovasi dalam mendukung transformasi energi yang lebih bersih di sektor penerbangan. “Kami berkomitmen untuk memastikan layanan energi yang berkelanjutan melalui penyediaan avtur hingga ke pelosok negeri, tidak hanya di bandara utama tetapi juga di bandara perintis," katanya.

Saat ini, lanjutnya, Pertamina Patra Niaga mengoperasikan 72 Aviation Fuel Terminal (AFT) yang berperan penting dalam mendukung konektivitas dan menggerakkan perekonomian daerah.

Sementara itu, Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja, memberikan apresiasi atas peran aktif Pertamina Patra Niaga yang konsisten berkolaborasi dan berinovasi untuk mendukung penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

“Kami akan berpartisipasi bersama Pertamina sebagai penyedia bahan bakar atau fuel provider yang mengedepankan isu global terkait Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada Pertamina SAF Forum 2025," ujar Denon.

INACA mendukung penuh transformasi yang dilakukan Pertamina dalam pengembangan bahan bakar ramah lingkungan. "Hal ini penting agar maskapai nasional kita dapat terus berkompetisi di kancah internasional,” kata Denon.(*) 
 

Terkini